Sumbawa Besar – Berdasarkan data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), angka stunting di Kabupaten Sumbawa menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan, dengan prevalensi mencapai 29,8 persen. Menghadapi situasi ini, pemerintah setempat berkomitmen untuk menurunkan angka stunting hingga 21,7 persen melalui berbagai upaya yang lebih terintegrasi dan efektif.
Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bapperida Kabupaten Sumbawa, Dr. Rusmayadi, menjelaskan bahwa mereka telah melaksanakan berbagai intervensi kebijakan untuk mencegah dan menurunkan angka stunting. “Kami terus berupaya memaksimalkan kolaborasi antar sektor untuk mencapai target penurunan stunting yang telah ditetapkan,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya pada Senin, 27 April.
Dr. Rusmayadi mengingatkan bahwa anak-anak yang mengalami stunting berisiko mengalami gangguan pertumbuhan otak, yang pada gilirannya dapat menurunkan kemampuan kognitif, belajar, dan konsentrasi mereka. “Akibatnya, prestasi akademik anak-anak ini cenderung lebih rendah, dan ketika mereka dewasa, mereka berpotensi memiliki produktivitas kerja yang lebih rendah,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa jika prevalensi stunting tetap tinggi, Kabupaten Sumbawa akan menghadapi tantangan besar dalam mencetak generasi unggul dan inovatif yang sangat dibutuhkan untuk mencapai visi generasi emas 2045. Selain itu, anak-anak yang mengalami stunting juga memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit kronis di masa dewasa, seperti diabetes dan hipertensi. “Kondisi ini tentunya akan meningkatkan beban biaya kesehatan baik bagi keluarga maupun daerah,” tambahnya.
Stunting juga berkorelasi erat dengan kemiskinan antargenerasi, di mana keluarga miskin lebih rentan memiliki anak yang mengalami stunting. Anak-anak yang stunting cenderung menghadapi masa depan ekonomi yang lebih sulit.
Dalam upaya penanganan masalah ini, salah satu program yang dilaksanakan adalah implementasi program quick wins. Program ini dirancang sebagai langkah strategis pemerintah untuk mempercepat penurunan prevalensi stunting, terutama sebagai bagian dari aksi konvergensi percepatan penurunan stunting di daerah. “Kami menyadari bahwa keberhasilan program ini memerlukan kerjasama dari semua pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat,” ungkap Rusmayadi.
Ia menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat desa untuk meningkatkan kualitas hidup secara mandiri, terutama dalam hal kesehatan, gizi, dan kesejahteraan keluarga. “Dengan kerjasama yang solid, kami yakin bahwa kita bisa mencapai tujuan bersama dalam menurunkan angka stunting dan menciptakan generasi yang lebih baik,” tutupnya.




